Sabtu, 24 Oktober 2015



albaqarah, Ayat 283 – 286
Oleh: Sumantri



وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضاً فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ تَكْتُمُواْ الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabb-nya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:283)

Firman Allah Ta’ala, Î وَإِن كُنتُمْ عَلَـى سَفَرٍ Ï “Jika kamu dalam perjalanan.” Yakni, sedang melakukan perjalanan dan terjadi hutang-piutang sampai batas waktu tertentu, Î وَلَمْ تَجِـدُوا كَاتِـبًا Ï Sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis.” Yaitu seorang penulis yang menuliskan transaksi untukmu. Ibnu Abbas mengatakan, “Atau mereka mendapatkan penulis, tetapi tidak mendapatkan kertas, tinta atau pena, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang oleh yang memberikan hutang. Maksudnya, penulisan itu diganti dengan jaminan yang dipegang oleh si pemberi pinjaman.” Firman Allah Ta’ala, Î فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ Ï “Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” Ayat ini dijadikan sebagai dalil yang menunjukkan bahwa jaminan harus merupakan sesuatu yang dapat dipegang. Sebagaimana yang menjadi pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama. Dan ulama yang lain menjadikan ayat tersebut sebagai dalil bahwa barang jaminan itu harus berada di tangan orang yang memberikan gadai. Ini merupakan riwayat dari Imam Ahmad. Sekelompok ulama juga berpendapat demikian.

Sebagian ulama salaf juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa barang jaminan itu hanya disyariatkan dalam transaksi di perjalanan saja. Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Mujahid dan ulama lainnya. Dan dalam Shahihain telah diriwayatkan, dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu:

أَنَّ رَسُـولَ اللهِ e تُوُفِّىَ، وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُوْديٍّ عَلـىَ ثَلاَثِينَ وَسْقًا مِنْ شَعِيْرٍ، رَهَنَهَا قُوْتًا لأَِهْلِهِ.

“Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, namun baju besinya masih menjadi jaminan di tangan seorang Yahudi, untuk pinjaman 30 wasaq gandum. Beliau meminjamnya untuk makan keluarganya.”

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan, “Dari seorang Yahudi Madinah.”

Dan dalam riwayat Imam Syafi’i, (beliau gadaikan) pada Abu Syahm al-Yahudi. Penjelasan mengenai permasalahan ini terdapat dalam kitab al-Ahkamul-Kabir.

Firman Allah Ta’ala, Î فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ Ï “Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya).” Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dengan isnad jayid, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia telah mengatakan bahwa ayat ini telah dinasakh oleh ayat sebelumnya.

Imam asy-Sya’bi mengatakan, “Jika sebagian kamu saling mempercayai sebagian lainnya, maka tidak ada dosa bagimu untuk tidak menulis dan mengambil kesaksian. Dan firman-Nya lebih lanjut, Î وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ Ï Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabb-nya,” Yang maksudnya (adalah), orang yang dipercaya (untuk memegang jaminan, hendaklah bertakwa kepada Allah. (Ed.)). Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan para penulis kitab as-Sunan, dari riwayat Qatadah, dari al-Hasan, dari Samurah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ، حَتَّى تُؤَدِّيَهُ.

Kewajiban tangan untuk mempertanggungjawabkan amanat yang diterima-Nya, sehingga ia melaksanakan (pengembalian)nya.”

Firman Allah Ta’ala selanjutnya, Î وَلاَ تَكْتُمُـوا الشَّـهَادَةَ Ï “Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian.” Maksudnya, janganlah kamu menyembunyikan, melebih-lebihkan, dan jangan pula mengabaikannya. Ibnu Abbas dan ulama lainnya mengatakan, “Kesaksian palsu merupakan salah satu dosa besar yang paling besar, demikian juga penyembunyiannya.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, Î وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمُُ قَلْبُـهُ Ï “Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” As-Suddi mengatakan, “Yaitu orang yang jahat hati-Nya.” Ini sama dengan firman-Nya: Î وَلاَ نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللهِ إِنَّآإِذًا لَّمِنَ اْلأَثِمِـينَ Ï “Dan (tidak pula) kami menyembunyikan persaksian Allah, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Maidah: 106)

Dan firman-Nya:

Ïيَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَآءَ للهِ وَلَوْ عَلَىأَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَن تَعْدِلُوا وَإِن تَلْوُا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا Î

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha-mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisaa’: 135)

Demikian juga pada surat al-Baqarah ini, Allah Ta’ala berfirman, Î وَلاَ تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمٌ قَلْبُهُ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ Ï “Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan Allah Maha-mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

لِّلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:284)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan Dia selalu memantau segala sesuatu yang terdapat di sana, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik itu yang tampak maupun yang tersembunyi, meskipun sangat kecil dan benar-benar tersembunyi.

Selain itu Dia pun memberitahukan bahwasanya Dia akan menghisab hamba-hamba-Nya atas segala perbuatan yang telah mereka kerjakan dan apa yang telah mereka sembunyikan dalam hati mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Ï قُلْ إِن تُخْفُوا مَافِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللهُ وَيَعْلَمُ مَافِـي السَّمَاوَاتِ وَ مَـا فِي اْلأَرْضِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيـرٌ Î

Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu memperlihatkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 29) Dan firman-Nya: Î يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى Ï “Sesung-guhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaaha :7) Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas hal tersebut sangat banyak sekali.

Allah Ta’ala telah memberitahu dalam ayat ini, bahwa Dia bukan saja mengetahui, tetapi juga menghisab terhadap hal itu. Oleh karena itu, setelah ayat ini turun, terasa sangat memberatkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka merasa takut darinya dan dari muhasabah (perhitungan) Allah Ta’ala terhadap mereka atas semua perbuatan baik kecil maupun besar. Hal ini karena kedalaman iman dan keyakinan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia menceritakan:

لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيِهِ وَسَلَّمَ د للهِ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ وَإِن تُبْدُوا مَافِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ خ اشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمُ، فَأَتَوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَثُوا عَلَى الرُّكَبِ، وَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كُلِّفْنَا مِنَ اْلأَعْمَالِ

مَا نَطِيقُ: الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالْجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ، وَقَدْ أَنْزَلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ اْلآيَـةُ وَلاَ نُطِيقُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَتُرِيْدُوْنَ أَنْ تَقُوْلُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِـتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا، غُفْـرَانَكَ رَبَّنَا، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ) فَلَمَّا أَقَرَّبِهَا الْقَوْمُ وَذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ أَنْزَلَ اللهُ فِـي أَثَرِهَا / آمَنَ الرَّسُـولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِـهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِـهِ وَقَالُوا سَـمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْـرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصـِيرُ . فَلَمَّا فَعَلُـوا ذَلِكَ، نَسَخَهَا اللهُ، فَأَنْزَلَ: / لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًـا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا اكْتَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ، رَبَّنَا لاَ تَؤَاخِذْنَا إِن
نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا . إِلَى آخِرِهِ.

“Ketika turun kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ayat (berikut): Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatan kamu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki pula. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,’ maka yang demikian itu terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian berlutut seraya berucap: ‘Ya Rasulullah, kami telah dibebani dengan amalan-amalan yang sanggup kami kerjakan, seperti shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Dan sekarang telah turun kepadamu ayat ini, dan kami tidak sanggup (memikulnya).’ Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh Ahlul Kitab sebelum kalian, ‘Kami mendengar dan kami melanggarnya?’ Tetapi katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami menaatinya. Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu-lah tempat kembali.’ Setelah mereka mau menerima ayat ini dan lidah mereka pun telah tunduk mengucapkannya, maka Allah setelah itu menurunkan firman-Nya: ‘Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan: ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu tempat kembali.’” Setelah mereka melakukan hal itu, Allah Ta’ala menasakh ayat tersebut dan menurunkan firman-Nya:

الخ . لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا / “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” (Dan seterusnya)

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits senada, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dengan lafadz:

فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ، نَسَخَهَا اللهُ فَأَنْزَلَ اللهُ د لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا خ قَالَ: نَعَمْ، د رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَـهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَـا خ قَالَ: نَعَمْ، د رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْـنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ خ قَالَ: نَعَمْ، د وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَـى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ خ قَالَ: نَعَمْ.

Setelah mereka melakukan hal itu, Allah Ta’ala pun menasakh ayat itu dan menurunkan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” Allah pun menjawab, “Ya.” Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.” Allah pun menjawab, “Ya.” “Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” Dan Allah menjawab, “Ya.” “Berikanlah maaf kepada kami, ampunilah kami, dan berikanlah rahmat kepada kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.” Allah menjawab, “Ya,”. (HR. Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia menceritakan: “Aku pernah bertamu ke rumah Ibnu Abbas, lalu kukatakan kepadanya: ‘Wahai Abu Abbas, aku pernah bersama Ibnu Umar, lalu ia membaca ayat ini dan kemudian menangis.’ Ibnu Abbas bertanya: ‘Ayat apa itu?’ Kujawab: ‘Yaitu ayat, ‘Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Sesungguhnya ketika diturunkan, ayat ini sempat membuat para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar sangat bersedih dan menjadikan mereka sangat tertekan perasaannya. Dan mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, binasalah kami, jika kami dihukum atas apa yang kami ucapkan dan kami perbuat, sedangkan hati kami tidak berada di tangan kami.’ Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Katakanlah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka pun mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, setelah itu ayat ini pun dinasakh (dihapuskan) dengan firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” Sehingga hilang keberatan yang ada pada diri mereka, dan selanjutnya mereka mau mengamalkannya.”

Dan jalur-jalur hadits tersebut adalah shahih. Dan hadits tersebut telah disebutkan dari Ibnu Umar, sebagaimana disebutkan dari Ibnu Abbas.

Imam Bukhari meriwayatkan, dari salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang aku duga adalah Ibnu Umar.

Mengenai firman Allah Ta’ala, . وَإِن تُبْدُوا مَا فِـي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ / Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya.” Ia mengatakan, Ayat tersebut telah dinasakh oleh ayat setelahnya.” Dan hal itu telah ditegaskan melalui hadits yang diriwayatkan sejumlah penulis dalam Kutub Sittah (kitab hadits yang enam), melalui jalan Qatadah, dari Zararah bin Abi Aufa, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسُهَا مَا لَمْ تَكَلَّمْ أَوْ تَعْمَلْ

Sesungguhnya Allah memberikan untukku maaf bagi umatku atas apa yang dikatakan hatinya selama tidak diucapkan atau dikerjakannya.”

Dalam kitab Shahihain telah diriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mengenai apa yang beliau riwayatkan dari-Nya Allah Ta’ala, beliau bersabda:

(إنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهاَ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً).

“Sesungguhnya Allah mencatat seluruh perbuatan baik dan perbuatan buruk. Selanjutnya Dia menjelaskan hal itu. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Dan jika ia berniat mengerjakan kebaikan, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat bahkan sampai kelipatan yang banyak. Dan jika ia berniat mengerjakan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan di sisi-Nya. Dan jika ia berniat mengerjakan keburukan, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan dalam hadits Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia menceritakan:

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسَوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوْهُ فَقَالُوا: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، قَالَ: ( وَقَدْ وَجَدْتُمُوْهُ؟) قَالُوا: نَعَم،ْ قَالَ: ( ذَالِكَ صَرِيْحُ اْلإِيْمَانِ ).

Ada beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang salah seorang di antara kami merasa segan untuk membicarakan-Nya.” Beliau bertanya, “Benarkah kalian telah mendapatkannya?” “Benar,” jawab mereka. Beliau pun bersabda, “Yang demikian itu adalah iman yang tulus.” (HR. Muslim)

Masih menurut riwayat Imam Muslim, dari Abdullah, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai was-was. Maka beliau menjawab, “Itulah iman yang tulus.”

Mengenai firman Allah Ta’ala, . وَإِن تُبْدُوا مَافِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللهُ / Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan kamu itu,” Ali bin Abi Thalhah menceritakan, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Ayat ini tidak dinasakh, tetapi ketika Allah Ta’ala mengumpulkan semua makhluk pada hari kiamat kelak, maka Dia akan mengatakan, “Sesungguhnya Aku akan beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian sembunyikan dalam hati kalian yang tidak dapat dilihat oleh malaikat-Ku.” Sedangkan kepada orang-orang yang beriman, Allah Ta’ala akan memberitahu mereka dan mengampuni mereka atas apa yang telah dikatakan oleh hati mereka.” Yaitu firman-Nya, .  يُحَاسِبْكُم بِهِ اللهُ / Maksudnya, Dia memberitahu kamu. Adapun bagi orang-orang yang bimbang dan penuh keraguan, maka kepada mereka akan diberitahukan kedustaan yang telah mereka sembunyikan. Dan itulah makna firman Allah Ta’ala, . فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ / Maka Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki pula.” Dan itu pula makna firman-Nya:

. وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ / “Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan apa yang diperbuat oleh hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 225) Maksudnya adalah keraguan dan kemunafikan.

Al-Aufi dan adh-Dhahak telah meriwayatkan makna yang berdekatan dengan makna tersebut.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Shafwan bin Mahraz, ia menceritakan:

بَيْنَمَا نَحْنُ نَطُوْفُ بِالْبَيْتِ مَعَ عَبْـدِ اللهِ اِبْنِ عُمَرَ، وَهُوَ يَطُوْفُ إِذْ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ، مَاسَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْـوَى؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ( يَدْنُوْ الْمُؤْمِنُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَ، حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ كَنَفَه، فَيُقَرِّرُهُ بِدُنُوْبِهِ، فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ -مَرَّتَيْنِ- حَتَّى إِذَا بَلَغَ بِهِ مَاشَآءَ اللهُ اَنْ يَبْلُغَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّى أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ) قَالَ: (فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ -أَوكِتَابَهُ- بِيَمِيْنِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ الْمُنَافِقُونَ فَيُنَادَى بِهِمْ عَلىَ رُءُوسِ اْلأَشْهَادِ د هَؤُلآءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَهُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ خ.

“Ketika kami sedang mengerjakan thawaf di Baitullah bersama Abdullah bin Umar yang juga sedang mengerjakan thawaf, tiba-tiba datang kepadanya seseorang lalu berkata: ‘Hai Ibnu Umar, apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda tentang Najwa (bisikan)?’ Ibnu Umar menjawab: ‘Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang mukmin mendekati Rabb-nya Ta’ala. Lalu Dia meletakkannya di bawah naungan lindungan-Nya dan membuatnya mengakui atas segala dosa-dosanya.’ Dia bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau tahu dosamu ini?’ Dia menjawab: ‘Rabb-ku lebih mengetahui.’ -Hal itu dikatakannya dua kali.- Hingga Dia mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya bagimu di dunia dan sesungguhnya Aku akan mengampuninya untukmu hari ini.’ Selanjutnya Dia memberikan lembar catatan kebaikannya -atau kitab catatannya- melalui tangan kanan-Nya. Sedangkan bagi orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan diseru di hadapan para saksi, “Orang-orang inilah yang telah berdusta kepada Rabb mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim.” (QS. Huud: 18)”

Hadits ini juga diriwayatkan dalam kitab Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dan juga kitab-kitab hadits yang lainnya melalui berbagai jalur.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ , لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan):”Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:”Kami mendengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa):”Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. 2:285) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. 2:286)

Beberapa hadits tentang keutamaan kedua ayat di atas. Semoga Allah Ta’ala memberi manfaat dari keduanya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu Mas’ud, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ بِاْلآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ.

“Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah pada malam hari, maka kedua ayat ini mencukupinya.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh beberapa perawi lainnya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُعْطِيْتُ خَوَاتِيْمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِىٌّ قَبْلِي.

Aku telah diberi beberapa ayat penutup surat al-Baqarah dari perbendaharaan di bawah ‘Arsy, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah, ia menceritakan: “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di perjalankan hingga sampai di Sidratul Muntaha, yang terdapat pada langit lapis ke tujuh. Padanya berakhir apa yang dibawa naik dari bumi, lalu ditahan. Dan padanya pula berakhir apa yang dibawa turun dari atasnya, lalu ditahan. Ia (Abdullah) berkata, (yaitu berkenaan dengan firman-Nya): (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” (QS. An-Najm: 16) Abdullah mengatakan, yaitu permadani dari emas. Lebih lanjut ia mengatakan, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam diberi tiga hal: shalat lima waktu, ayat-ayat penutup surat al-Baqarah, dan ampunan bagi umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Abu Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ، وَلاَ يُقْرَأُ بِهِنَّ فِي دَارٍ ثَلاَثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبِهَا شَيْطَانٌ.

“Sesungguhnya Allah telah menuliskan sebuah kitab dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Darinya Dia menurunkan dua ayat yang dengan keduanya itu Dia menutup surat al-Baqarah. Dan keduanya tidak dibaca dalam suatu rumah selama tiga hari, melainkan syaitan akan lari darinya.”

Selanjutnya Imam at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini berstatus gharib.” Hal yang senada juga diriwayatkan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, dari Hamad bin Salamah. Dan ia mengatakan, bahwa hadits tersebut shahih menurut persyaratan Muslim, namun Imam Muslim dan Imam al-Bukhari tidak meriwayatkannya.

Firman Allah Ta’ala, . ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ / “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya.” Ini adalah pemberitahuan mengenai diri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan firman-Nya, . وَالْمُؤْمِنُـونَ / “Demikian pula orang-orang yang beriman.” Diathafkan (dihubungkan) dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kemudian Dia memberitahukan mengenai keseluruhannya dengan berfirman,

. كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ / “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan, “Kami tidak membedabedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.”

Dengan demikian, orang-orang mukmin beriman bahwa Allah adalah Satu yang Esa, Sendiri dan Kekal, tidak ada Ilah yang hak selain diriNya, dan tidak ada Rabb melainkan hanya diri-Nya. Dan mereka membenarkan semua nabi dan rasul, kitab-kitab yang diturunkan dari langit kepada hamba-hamba-Nya yang diutus menjadi rasul dan nabi. Mereka tidak membedakan antara rasul yang satu dengan yang lainnya, sehingga mereka (tidak) hanya beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Tetapi seluruh rasul dan nabi itu, menurut mereka adalah benar, baik, mendapat bimbingan dan memberi petunjuk kepada jalan kebaikan, meskipun sebagian rasul itu menghapus syariat sebagian rasul lainnya dengan seizin Allah Ta’ala, hingga akhirnya seluruh syariat mereka dihapus dengan syariat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para nabi dan rasul, dan hari kiamat akan terjadi pada masa syariatnya (Muhammad e), dan akan tetap ada segolongan dari umatnya senantiasa berpegang teguh dan menetapi kebenaran.

Firman Allah Ta’ala, . وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا / “Dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’” Maksudnya, kami mendengar firman-Mu, ya Rabb kami, memahami dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunannya. . غُفْرَانَكَ رَبَّنَا / “(Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami.’” Yang demikian itu merupakan permohonan ampun, rahmat, dan belas kasih. . وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ / “Dan kepada-Mu tempat kembali.” Maksudnya, Dialah tempat kembali pada hari perhitungan.

Firman Allah Ta’ala selanjutnya, . لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا / Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Artinya, Allah Ta’ala tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Ini merupakan kelembutan, kasih sayang, dan kebaikan-Nya terhadap makhluk-Nya. Dan ayat inilah yang menasakh apa yang dirasakan berat oleh para sahabat Nabi, yaitu ayat, . وَإِن تُبْدُوا مَافِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللهُ / “Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu.” Maksudnya, meskipun Dia menghisab dan meminta pertanggungjawaban, namun Dia (Allah Ta’ala ) tidak mengadzab melainkan disebabkan terhadap dosa yang seseorang memiliki kemampuan untuk menolaknya. Adapun sesuatu yang seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya seperti godaan dan bisikan jiwa (hati), maka yang demikian itu tidak dibebankan kepada manusia. Dan kebencian kepada godaan bisikan yang jelek/jahat merupakan bagian dari iman.

Dan firman-Nya lebih lanjut, . لَهَا مَاكَسَبَتْ / “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya.” Yaitu berupa kebaikan yang ia lakukan. . وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ / Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” Yaitu berupa keburukan yang ia perbuat. Yang demikian itu menyangkut amal perbuatan yang termasuk dalam taklif (yang harus dilakukan).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, memberikan bimbingan kepada hamba-hamba-Nya dalam memohon kepada-Nya. Dan Dia telah menjamin akan memenuhi permohonan tersebut. Sebagaimana Dia telah membimbing dan mengajarkan kepada mereka untuk mengucapkan,

. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا / Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” Yaitu, jika kami meninggalkan suatu kewajiban atau mengerjakan perbuatan haram karena lupa, atau kami melakukan suatu kesalahan karena tidak tahu kebenarannya menurut syariat.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(قَالَ اللهُ: نَعَـمْ)

“(Lalu) Allah pun menjawabnya: ‘Ya.’” (bahwa doa tersebut langsung dijawab Allah Ta’ala dengan jawaban, “Ya.” (Pent.))

Sedangkan firman-Nya, . رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا / “Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.” Maksudnya, janganlah Engkau membebani kami dengan amal-amal yang berat-berat meskipun kami mampu menunaikannya, sebagaimana yang telah Engkau syariatkan kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kami, yang berupa belenggu-belenggu dan beban-beban yang mengikat mereka, yang Engkau telah mengutus Nabi-Mu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai Nabi pembawa rahmat, untuk menghapuskannya melalui syariat yang Engkau kirimkan melalui dirinya, berupa agama yang lurus, yang mudah, lagi penuh kemurahan hati.

Firman Allah Ta’ala selanjutnya, . رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْـنَا مَالاَطَاقَـةَ لَنَا بِهِ / “Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” Yaitu, berupa kewajiban, berbagai macam musibah dan ujian. Janganlah Engkau menguji kami dengan apa yang kami tidak mampu menjalaninya.

Firman-Nya lebih lanjut, . وَاعْفُ عَنَّا / Berikanlah maaf kepada kami.” Yaitu kekhilafan dan kesalahan yang Engkau ketahui yang pernah terjadi antara kami dengan-Mu. . وَاغْفِرْ لَنَا / Ampunilah kami.” Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di antara kami dengan hamba-hamba-Mu. Maka janganlah Engkau memperlihatkan kepada mereka keburukan-keburukan kami dan perbuatan jelek kami. . وَارْحَمْنَـآ / Dan berikanlah rahmat kepada kami.” Yaitu, pada segala hal yang akan datang. Maka janganlah Engkau menjatuhkan kami ke dalam dosa yang lain. Oleh karena itu para ulama berkata, “Sesungguhnya orang yang berbuat dosa memerlukan tiga hal: Ampunan dari Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang pernah terjadi antara dirinya dengan-Nya, penutupan-Nya terhadap kesalahannya dari hamba-hamba-Nya yang lain, sehingga Dia tidak mencemarkannya di tengah-tengah mereka dan perlindungan dari-Nya sehingga ia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama.”


Firman Allah Ta’ala setelah itu, . أَنتَ مَوْلاَنَا / “Engkaulah penolong kami.” Maksudnya, Engkaulah pelindung dan pembela kami. Kepada-Mu kami bertawakal. Engkaulah tempat memohon pertolongan, dan kepada-Mu kami bersandar. Tidak ada daya dan kekuatan pada kami melainkan karena pertolongan-Mu. . فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ / “Maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.’” Yaitu orang-orang yang mengingkari agama-Mu, menolak keesaan-Mu dan risalah nabi-Mu, menyembah Ilah selain diri-Mu, serta menyekutukan-Mu dengan hamba-Mu. Maka tolonglah kami untuk mengalahkan mereka, dan jadikanlah kami pada akhirnya mendapatkan kemenangan atas mereka di dunia dan di akhirat. Maka Allah Ta’ala pun menjawab: “Ya.”


Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar